Rumah CSR : Jendela Informasi CSR Terkemuka di Indonesia

Mon10202014

Last updateFri, 17 Oct 2014 3pm

Back You are here: Home Artikel Corporate Social Responsibility

Corporate Social Responsibility

PENDAHULUAN,Corporate Social Responsibility didefinisikan oleh Vasin, Heyn & Company (2004) sebagai: “Kesanggupan perusahaan untuk berkelakuan dengan cara-cara yang mengikuti azas-azas ekonomi, sosial dan kelestarian lingkungan, tetapi tetap menghormati kepentingan langsung dari stakeholder.” Pada tahun 1999, Nuryana (2002) kemudian mengalih bahasakan corporate social responsibility (CSR) dengan nama Tanggungjawab Sosial Dunia Usaha, disingkat Tansodus.

 

Pada saat itu, Kantor Menteri Negara Masalah-Masalah Kemasyarakatan/Badan Kesejahteraan Sosial Nasional tengah menimbang CSR agar terinkorporasi ke dalam kebijakan perusahaan, dengan alasan CSR dapat dipandang sebagai sebuah potensi bagi pembangunan sosial. Oleh karena itu, perlu ada promosi CSR oleh pemerintah dan instansi terkait lainnya.

CSR esensinya adalah sebuah konsep dengan itu perusahaan memutuskan secara sukarela untuk berkontribusi kepada suatu masyarakat yang lebih baik kesejahteraannya dan lingkungan yang lebih bersih. Banyak faktor mendorong kepada gerakan corporate social responsibility (CSR): (a) kepedulian dan harapan baru dari warga, konsumen, dan otoritas publik dan investor dalam konteks globalisasidan perubahan industri dalam skala besar; (b) kriteria sosial meningkat mempengaruhi keputusan investasi bagi individu-individu dan lembaga-lembaga sebagai konsumen dan sebagai investor; (c) meningkatnya keprihatinan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas ekonomi terhadap lingkungan; (d) transparensi aktivitas bisnis yang di bawah oleh media massa dan teknologi informasi dan komunikasi modern.

BISNIS DAN CSR, Pada level nasional, tantangannya adalah bagaimana CSR dapat memberikan kontribusi terhadap komitmen perusahaan dalam membangun suatu ekonomi berbasis pengetahuan yang dinamis, kompetitif dan kohesif. CSR memiliki implikasi penting bagi semua aktor ekonomi dan sosial maupun otoritas publik, mereka yang harus diperhitungkan dalam menentukan aksi-aksi mereka.
Pada level internasional, melalui kebijakan seperti perdagangan dan pengembangan kerjasama, Indonesia secara langsung terlibat dalam isu-isu menyangkut perilaku pasar. Pendekatan CSR Indonesia, oleh karenanya, harus merefleksikan dan terpadu ke dalam konteks lebih luas dari berbagai inisiatif internasional, seperti UN Global Compact (2000), definisi ILO mengenai CSR yang menjelaskannya sebagai sebuah konsep di mana perusahaan harus mengintegrasikan aspek sosial dan lingkungan ke dalam operasi bisnis mereka dan dalam interkasi mereka dengan stakeholder mereka berdasarkan basis sukarela. Menjadi bertanggung jawab sosial tidak hanya memenuhi harapan legal, tetapi melampauinya hingga memenuhi kewajiban dan investasi dalam human capital, lingkungan dan hubungan dengan stakeholder.

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY, Lembaga keuangan semestinya membuat atau menggunakan sebuah checklist mengenai sosial dan lingkungan untuk mengevaluasi risiko dari pinjaman kepada, dan investasi dalam perusahaan. Ada kebutuhan terhadap pengetahuan lebih baik dan studi lebih lanjut tentang dampak CSR bagi kinerja bisnis. Hal ini dapat menjadi sebuah bidang bagi penelitian lebih lanjut antara perusahaan, otoritas publik, dan perguruan tinggi. Upaya ini dapat didukung oleh kerangka kerja program bagi penelitian dan pengembangan teknologi.

CSR: Dimensi Internal, Dalam perusahaan, praktis tanggung jawab sosial pada dasarnya melibatkan pegawai dan menghubungkan dengan isu-isu seperti investasi dalam human capital, kesehatan dan keselamatan, dan mengelola perubahan, sementara praktis tanggung jawab secara lingkungan terutama berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam yang digunakan dalam produksi. Perusahaan itu membuka diri terhadap cara-cara dalam pengelolaan dan penyesuaian dengan pembangunan sosial dengan peningkatan kompetitif perusahaan.

Manajemen Sumberdaya Manusia,Tantangan utama bagi perusahaan dewasa ini adalah bagaimana menarik dan mempertahankan pegawai yang telah terampil. Dalam konteks ini, upaya relevan dapat berupa lifelong learning, pemberdayaan pegawai, informasi lebih baik ke seluruh bagian perusahaan, keseimbangan lebih baik antara kerja, keluarga dan senggang, keragaman pegawai, kesetaraan pembayaran dan prospek karir bagi perempuan, pembagian keuntungan dan skema kepemilikan saham bersama, dan kepedulian terhadap ‘employability’ dan jaminan kerja. Pemberian kesempatan kerja bagi penyandang cacat juga sangat penting. Praktis rekrutmen yang bertanggung jawab tanpa nepotisme, praktis non-diskriminasi, dapat memfasilitasi rekrutmen orang dari minoritas etnis, pekerja tua, perempuan. Praktis tersebut sangat penting dalam hubungannya dengan pencapaian strategi kesmepatan kerja nasional dalam menurunkan pengangguran, meningkatkan kesempatan kerja, dan memerangi eksklusi sosial.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja, secara tradisional telah didekati terutama oleh perangkat legislasi dan penegakan hukum. Akan tetapoi, kecenderungan penggunaan ‘outsourcing’ melalui kontraktor kerja dan pemasok membuat perusahaan lebih dependen (bebas) dalam hal kinerja keselamatan dan kesehatan dari kontraktor mereka, terutama mereka yang bekerja dalam sistem kerja seperti itu.

Adaptasi Terhadap Perubahan, Meluasnya restrukturisasi perusahaan di Indonesia meningkatkan krpihatikan bagi semua pegawai dan stakeholder yang lain di mana penutupan pabrik dan pengurangan pegawai mungkin dapat mengakibatkan krisis serius dalam ekonomi, sosial dan politik dalam sebuah komunitas. Banyak perusahaan yang menghindarkan dari restrukturisasi, sering melalui downsizing, merger dan akuisisi. Berdasarkan sebuah studi, satu dari empat operasi restrukturisasi mencapai tujuannya menurunkan biaya, meningkatkan produktivitas dan memeperbaiki kualitas dan pelayanan konsumen. Restruktueisasi dalam cara-cara yang bertannggung jawab secara sosial berarti untuk menyeimbangkan dan mempertimbangkan kepentingan dan keprihatinan semua orang yang dipengaruhi oleh perubahan dan keputusan. Dalam praktisnya, proses ini sering menjadi lebih penting dari pada substansi keberhasilan restrukturisasi itu sendiri. Hal ini melibatkan partisipasi dan keterlibatan mereka yang dipengaruhi melalui informasi dan konsultasi terbuka. Selanjutnya, restrukturisasi memerlukan persiapan dengan identifikasi risik-risiko utama, kalkulasi semua biaya langsung dan tidak langsung, alternatif strategi dan kebijakan terkait, dan evaluasi semua alternatif yang akan menurunkan kebutuhan berlebih. Pengalaman operasi restrukturisasi di sejumlah negara Eropa dalam industri baja, batubara, dan galangan kapal memperlihatkan bahwa keberhasilan restrukturisasi dapat lebih baik dicapai melalui upaya bersama yang melibatkan otoritas publik, perushaan, dan perwakilan pegawai. proses ini harus dilihat sebagai penyelamatan hak-hak pegawai dan memungkinkan mereka melakukan vocational retraining bila diperlukan, untuk memodernisasi perlengkapan produksi, dan proses dalam rangka mengembangkan kegiatan on-site, untuk memobilisasi pendanaan swasta dan publik dan membuat prosedur bagi informasi, dialog, kooperasi dan kemitraan. Perusahaan harus berbagi tanggung jawab untuk menjamin ‘employability’ staf mereka. Dengan terlibat dalam pengembangan lokal dan strategi pasar tenaga kerja lokal melalui keterlibatan dalam lapangan kerja lokal dan/atau kemitraan inkulsi sosial, perusahaan dapat mengurangi dampak sosial lokal dari restrukturisasi skala besar.

Manajemen Dampak Lingkungan dan Ssumberdaya Alam, Secara umum, menurunkan konsumsi atas sumberdaya atau menurunkan emisi polusi dan sampah dapat menurunkan dampak lingkungan. Sangat baik bagi bisnis dengan menurunkan biaya energi dan pembuangan sampah dan merendahkan input dan biaya depolusi. Perusahaan menemukan bahwa kurangnya penggunaan dapat mendorong kepada peningkatan keuntungan dan kompetitif perusahaan. Pendekatan lain yang memfasilitasi CSR adalah Eco-Management and Audit Scheme (EMAS) ISO 19000. konsep ini mendorong perusahaan untuk secara sukarela menyusun situs atau manajemen lingkungan yang lebih luas dan sistem audit yang mempromosikan perbaikan kinerja lingkungan. Pernyataan lingkungan adalah publik dan harus divalidasi oleh lembaga verifikasi lingkungan yang terakreditasi.

CSR: Dimensi Eksternal, CSR memperluas melampaui pintu pintu perusahaan ke dalam komunitas lokal dan melibatkan banyak stakeholder di luar pegawai dan shareholder: mitra bisnis, pemasok, pelanggan, otoritas publik, LSM yang mewakili komunitas lokal dan lingkungan.

Komunitas Lokal, CSR juga tentang integrasi perusahaan dalam setting lokal. Perusahaan membeirkan kontribusikepada komunitas mereka terutama komunitas lokal, dengan menyediakan pekerjaan, gaji dan manfaat, dan pendapatan pajak. Disisi lain, perusahaan sangat tergantung pada kesehatan, stabilitas, dan kemakmuran komunitas di mana mereka beroperasi.

Business partners, suppliers and consumers, Dengan bekerjasama lebih erat dengan mitra bisnis, perusahaan dapat menurunkan kompelksitas dan biaya dan meningkatkan kualitas. Pemilihan pemasok tidak selalu secara ekslusif melalui penawaran yang kompetitif. Hubungan dengan aliansi bisnis dan mitra joint venture dan dengan franchisees juga sama pentingnya. Dalam jangka panjang, membangun hubungan dapat menghasilan harga yang adil, harapan jangka panjang dan kualitas yang baik dan pengiriman yang reliable. Dalam mengadospi praktis yang bertanggung jawab secara sosial, semua perusahaan, harus menghargai aturan yang relevan dan undang-undang kompetisi yang sehat.
Hak Azasi Manusia, CSR memiliki dimensi yang sangat kuat dalam hak azasi manusia, terutama dalam hubungannya dengan operasi internasional dan rantai pasokan global. Hal ini diakui oleh instrumen internasional seperti ILO Tripartite Declaration of Principles concerning Multinational Enterprises and Social Policy  dan OECD Guidelines for Multinational Enterprises. HAM juga merupakan isu sangat kompleks dalam bidang politik, hukum dan dilema moral. Perusahaan menghadapi tantangan pertanyaan, termasuk bagaimana mengidentifikasi di mana area tanggung jawab mereka berbeda dengan pemerintah.

Kepedulian Lingkungan Global, Melalui pengaruh transboundary dari banyak masalah yang berkaitan dengan bisnis dengan lingkungan, konsumsi sumberdaya dari seluruh dunia, perusahaan juga aktor-aktor dalam lingkungan global. Mereka dapat memperjuangkan tanggung jawab sosial secara lokal, nasional dan internasional. Debat mengenai peranan bisnis dalam mencapai pembangunan berkelanjutan mendapat perhatian serius dari masyarakat global. UN Secretary General telah meluncurkan inisiatif ‘Global Compact’ yang untuk membuat bisnis sebagai mitra dalam mencapai perbaikan sosial dan lingkungan secara global. OECD Guidelines for multinational enterprises juga mempromosikan pembangunan berkalnjutan.

PENDEKATAN HOLISTIK TERHADAP CSR

Manajemen Tanggung Jawab Sosial Terpadu, Pendekatan perusahaan dalam berhubungan dengan tanggung jawab dan hubungan dengan stakeholder beragam tergantung pada sektor dan perbedaan budaya. Pada awalnya perusahaan cenderung mengadopsi sebuah misi, code of conduct atau credo di mana mereka menyatakan kegunaan mereka, core values, dan tanggung jawab terhadap stakeholder. Nilai-nilai ini kemudian perlu diterjemahkan ke dalam aksi-aksi pada lintas organisasi, mulai dari strategi hingga kepada keputusan harian. Hal ini melibatkan praktis seperti memasukan dimensi sosial dan lingkungan ke dalam perencanaan dan anggaran, dan mengevaluasi kinerja perusahaan dalam area-area ini, menciptakan ‘community advisory committees’, melakukan sosial audit, environmental audit dan menyusun program pendidikan berkelanjutan.

Laporan Tanggung Jawab Sosial dan Social Audit, Banyak perusahaan multinasional sekarang mengusung isu laporan tanggung jawab sosial. Sementara laporan lingkungan, kesehatan, dan keselamatan telah dilakukan, tetapi isu HAM dan pekerja anak tidak. Pendekatan perusahaan terhadap laporan sosial bermacam-macam sebagaimana halnya pendekatan terhadap CSR. Dalam rangka melaporkan aspek sosial, sebuah konsensus global perlu menjadi rujukan terutama tentang tipe informasi yang harus dilaporkan, format laporan yang digunakan, dan reliabilitas evaluasi dan prosedur audit yang dilakukan.

Denmark memiliki Danish Social Index, yang merupakan sebuah self-assessment tool yang dikembangkan Ministry of Social Affairs untuk mengukur tingkat tanggung jawab sosial perusahaan. Sementara Perancis memiliki Article 64, French law, menyangkut regulasi ekonomi yang mensyaratkan perusahaan untuk melaporkan ‘social and environmental consequences’ atas aktivitas mereka dalam laporan tahunan. Juga ada Social Accountability 8000 (SA8000) dan sistem verifikasinya di Amerika Serikat. Indonesia belum memiliki Social Audit, tetapi CFCD tengah mempersiapkan sebuah draft Social Audit dalam rangka persiapan pemberian CSR Award bagi perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial yang baik pada tahun 2005 ini. Sedangkan upaya ke arah legalisasi CSR oleh Departemen Sosial nampaknya belum akan terjdi di Indonesia, semenjak CSR dipahami oleh otoritas publik sebagai bentuk kepedulian sosial perusahaan terhadap dimensi sosial. Sedangkan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup telah meregulasi kinerja lingkungan bagi perusahaan dengan keharusan memiliki PROPER

Kualitas dalam Bekerja, Pegawai adalah stakeholder utama perusahaan. Implemnatasi CSR memerlukan komitmen dari top manajemen, tetapi juga pemikiran inovatif dan keterampilan baru dan keterlibatan lebih dekat dari pegawai dan wakilnya dalam suatu dialog terbuka yang dapat menjadi struktur permanen untuk mendapatkan umpan-balim dan penyesuaian. Dialog sosial dengan wakil pegawai, yang menjadi mekanisme utama dalam hubungan tersebut, memainkan peranan krusial dalam adopsi CSr secara lebih luas dalam praktis.

Sosial dan Eco-Label, Hasil survei di EU menunjukan bahwa konsumen tidak hanya menghendaki produk yang aman dan baik, tetapi mereka menghendaki juga untuk mengetahui apakah sebuah perusahaan itu memproduksi dengan cara-cara yang bertanggung jawab secara sosial. Bagi minoritas konsumen Indonesia, komitmen sebuah perusahaan terhadap CSR sangat penting ketika mereka membeli produk barang dan jasa. Hal ini menciptakan peluang pasar sangat menarik.

Investasi yang Bertanggung Jawab, Akhir-akhir ini, socially responsible investing (SRI)―investasi yang secara sosial bertanggung jawab―mulai populer di antara investor terutama investor asing. Kebijakan sosial dan lingkungan perusahaan menyediakan investor indikasi yang baik dan ‘sound’ manajemen internal dan eksternal. Mereka memberikan kontribusi dalam meminimalkan risiko dengan mengantisipasi dan mencegah krisis yang dapat mempengaruhi reputasi dan penurunan dramatis atas harga saham perusahaan dimaksud. (tim CFCD)

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS

Berita terkait lainnya